Senin, 12 Mei 2014

DARI AQIDAH DAN FILSAFAT MENJADI ILMU AQIDAH

asasalamu'alaikum wr.wb.
Membuka mata untuk melihat kenyataan, mengaktualisasikan pikiran untuk membijaki segala pertentangan. Bismillahirrahmanirrahim

(opini saya)


Seakan saya tidak percaya, kenyataan perubahan nama jurusan aqidah dan filsafat ke- ilmu aqidah telah memunculkan banyak kritikan dari para mahasiswa yang ada didalamnya.

Sebagian besar dari mereka merasa tidak senang dengan perubahan nama tersebut, seakan-akan masa depan yang cerah hanya ada pada sebuah nama.

Jika kesadaran untuk memahami makna kita kedepankan, maka fungsional filsafat ada didalam ilmu aqidah.

Keberadaan kata aqidah sudah berdampingan lama dengan kata filsafat, hanya saja selama ini kita menganggapnya ada tapi seakan tiada.

Kita telah mengagung-agungkan kata filsafat, sehingga kata aqidah sulit untuk kita dengungkan.

Ini baru dari segi pengucapan kata, belum lagi dari segi pengaplikasian setiap makna yang terkandung didalam kata-kata tersebut. Perlu kita pahami lebih lanjut apa makna aqidah dan apa makna filsafat.

Sepintas saya beri gambaran bahwa aqidah adalah keyakinan, sedangkan filsafat adalah suatu kajian mendalam yang mengedepankan akal.

Aqidah yang mapan tidak hanya mengandalkan potensi akal, akan tetapi butuh juga kepada potensi lainnya, yaitu: wahyu, indera dan hati.

Agar segenap potensi tersebut dapat bersinergi dengan baik, maka difungsikanlah ILMU AQIDAH sebagai jembatan penghubungnya.

Tuhanlah Yang Maha Sempurna, sedangkan manusia hanyalah makhluk yang diberikan potensi oleh-Nya untuk berbuat. Sabjek yang berperan dalam melakukan perbuatan baik dan buruk adalah makhluk (manusia), yaitu dengan segenap potensi (Wahyu, Akal, Indera, dan Hati) yang telah diberikan Tuhan.

Wassalamu'alaikum wr.wb.
Darussalam, 12 Mei 2014

Tidak ada komentar: