Rabu, 28 Mei 2014

KRITIKAN & SARAN

Perasaan hari ini sangat tidak menentu, yaitu ketika melihat rawut wajah teman-teman sekelas terhadap saya. Sata berfikir dan menduga-duga mugkin inilah prasangka yang sulit saya hilangkan. Kadangkala mereka bersikap manis, kadangkala apatis, sombong, dan merasa serba bisa.
Pikiran dan hati saya terus menduga-duga, sehingga muncullah berbagai ungkapan bahwa yang paling benar adalah saya, sedangkan mereka semua tidak mengerti terhadap setiap ungkapan saya.
Sekarang saya tidak tahu apa yang harus perbuat. Semua teman-teman seakan membenci dan marah terhadap saya. Dan itu semua saya lihat dari raut wajah dan sikap yang mereka tampilkan dihadapan saya.
Apakah dibelakang saya sikap mereka tidak demikian? atau lebih parah dari itu?
Saya selalu merasa bahwa selama ini hanya diperlukan pada saat kesulitan saja. ketika mereka sudah tahu, mampu berbuat sendiri, maka tidak sedikit pun publisan mereka terhadap saya.
Pada malam ini, tepatnya pukul 01:49 Wib, saya ingin menuliskan semua perasaan yang ada di dalam benak pikiran dan hati ini, terutama yang berkaitan dengan masalah yang sedang saya alami dikampus bersama dengan teman-teman se-unit. Di unit ini, saya telah dipercayakan sebagai ketua kelas yang tugasnya ialah untuk memimpin segala persoalan yang berkaitan dengan proses belajar mengajar (perkuliahan). Namun, selama ini saya selalu merasa bahwa kepercayaan yang telah mereka berikan tersebut seakan hilang. Saya mencoba menyadari dan bertanya-tanya didalam hati, apa yang salah dengan sikap dan ucapan saya terhadap mereka selama ini? Apa yang menyebabkan mereka bersikap demikian terhadap saya?Setelah saya bertanya-tanya sedemikian rupa, maka saya mulai mengintropeksidiri dan mencoba memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Selama saya mengikuti proses belajar dengan mereka, banyaka sekali hal-hal yang berupa kritikan dan saran yang saya berikan, terutama terhadap makalah, cara komuniksai saya dengan mereka, sehingga sering membuat mereka merasa jengkel, sebel, marah, bahkan dendam terhadap sikap saya tersebut.
Mereka paling tidak senag jika ada teman-teman yang bertanya, mengkritik ataupun memberikan saran ketika mempresentasikan makalah di depan kelas. Alasannya biar tidak susah, biar tidak ketahuan sama dosen bahwa mereka tidak menguasai bahan, dan biar makalah-makalah yang mereka copy paste dari internet dan buku-buku di pustaka tidak di suruh perbaiki oleh dosen, serta berbagai macam alasan lainnya. Bahkan ada yang memponis kepada teman-teman yang lain agar tidak boleh ada pertanyaan pada saat tampil makalah nantinya. Kalau pun ada maka pertanyaan tersebut langsung dia yang tentukan: "nanti, pada saat saya tampil makalah, kamu tanyakan tentang ini kepada saya, jangan tanya yang lain ya, sebab nati takutnya saya tidak bisa jawab''.
Sikap mereka yang seperti inilah yang selalu saya kritik dan saran. Dengan tujuan agar sekap yang demikian itu kedepannya tidak dilakukan lagi. 
Bersambung [Di Kos, Rukoh, Syiah Kuala. 02:16 Wib].             

Selasa, 27 Mei 2014

MAHASISWA TAHUN TERAKHIR

Dipenghujung sore menjelang malam ini,,

saya bercerita tentang sikap diri ini kepada seorang teman yang telah menguras perasaan..
saya telah mengedepankan perasaan sendiri, sehingga saya tidak mempedulikan perasaan mereka..
saya selalu berharap mereka dapat mengerti akan sikap ini..
akan tetapi kapan,, kapan mereka akan mengerti,,
jika saya tidak pernah mengerti akan perasaan mereka ..

teman..
saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat agar teman-teman dapat mengerti akan saya..
karena saya tidak tahu pasti bagaimana perasaan teman-teman terhadap saya..

teman..
ditahun terakhir kebersamaan ini, saya ingin kita semua dapat saling mengerti akan makna sebuah pertemuan.
karena pada suatu saat, seusai dari perkuliahan ini kita pasti akan menempuh jalan hidup masing-masing..
dimana pada hari itu,, tiada artinya lagi keinginan kembali untuk memperbaiki masa lalu..

masa lalu akan terus berlalu.. ia hanya akan menjadi kenangan..
baik atau burukkah kenangan di hari esok,, 
itu semua tergantung pada apa yang kita lakukan hari ini..

teman..
telah begitu banyak kenangan yang tidak bisa kita rubah..
sehingga saya tidak ingin dipenghujung perkuliahan ini ..
kenangan yang serupa akan muncul dihari esok.. 

teman
Maafkan atas segenap sikap buruk saya selama ini..
untuk kali terakhir ini saya akan berusaha untuk menyesuaikan sikap dengan baik terhadap semua. karena saya tidak ingin suatu saat nanti kenangan buruk yang akan selalu ada diingatan.

[Nazari Mahda. Asrama Sawang, 27 Mei 2014. 18:02 wib]

Kamis, 22 Mei 2014

MASALAH, BAIKNYA DI APAKAN YA

Semenjak semester pertama menduduki bangku perkuliahan di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, masalah yang satu ini belum pernah ada jalan penyelesaian. MASALAH APAKAH ITU?
Saya rasa, masalah yang ingin saya ceritakan kali ini bukanlah masalah yang asing, terutama bagi teman-teman saya yang ada di unit 01. leting 2011, Jurusan Ilmu Aqidah Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Masalahnya terkesan sederhana tetapi telah mengalaukan pikiran saya dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, ataupun semester ke semester. 
Dalam hati kecil saya selalu berharap bahwa pada suatu saat nanti akan ada penyelesain yang baik dari masalah tersebut. Akan tetapi,
SERING SEKALI TERBERSIK DIHATI, SAYA INGIN PERGI DAN MENGHINDAR JAUH. NAMUN AKU MASIH DI SINI. MUNGKIN TUHAN BELUM MENGHENDAKINYA.

Setiap ada keinginan untuk pergi, selalu saja ada yang menghalangi. Sehingga tidak pernah bisa pergi. Sampai saat ini, masih saja ku alami tindak tanduk mereka itu.
Saya tidak pernah berharap mereka dapat mengikuti seperti apa yang saya katakan, tetapi saya ingin mereka dapat memperoleh kesadaran atas apa yang saya katakan. 
Perkataan ku belum tentu benar, sikap ku terkadang sangat tidak wajar, mimik wajah ku terkadang terkesan mencekam, seakan singa ingin menerkam. namun percayalah teman, saya menegurmu, mengkritik ucapan mu, memberi saran dan pendapat terhadap perbuatan mu, hanyalah untuk memperoleh KESEJATIAN ILMU dari Allah swt. BUKANLAH UNTUK MEMPERBUTKAN NILAI A DARI SETIAP DOSEN PEMBIMBING MATA KULIAH. 
Teman, Mari kita belajar untuk terus mengkritisi segala bentuk pembahasan ilmu, agar kehadiran ilmu tersebut dapat kita fungsikan dengan baik di dalam menjalani kehidupan. 

Senin, 12 Mei 2014

DARI AQIDAH DAN FILSAFAT MENJADI ILMU AQIDAH

asasalamu'alaikum wr.wb.
Membuka mata untuk melihat kenyataan, mengaktualisasikan pikiran untuk membijaki segala pertentangan. Bismillahirrahmanirrahim

(opini saya)


Seakan saya tidak percaya, kenyataan perubahan nama jurusan aqidah dan filsafat ke- ilmu aqidah telah memunculkan banyak kritikan dari para mahasiswa yang ada didalamnya.

Sebagian besar dari mereka merasa tidak senang dengan perubahan nama tersebut, seakan-akan masa depan yang cerah hanya ada pada sebuah nama.

Jika kesadaran untuk memahami makna kita kedepankan, maka fungsional filsafat ada didalam ilmu aqidah.

Keberadaan kata aqidah sudah berdampingan lama dengan kata filsafat, hanya saja selama ini kita menganggapnya ada tapi seakan tiada.

Kita telah mengagung-agungkan kata filsafat, sehingga kata aqidah sulit untuk kita dengungkan.

Ini baru dari segi pengucapan kata, belum lagi dari segi pengaplikasian setiap makna yang terkandung didalam kata-kata tersebut. Perlu kita pahami lebih lanjut apa makna aqidah dan apa makna filsafat.

Sepintas saya beri gambaran bahwa aqidah adalah keyakinan, sedangkan filsafat adalah suatu kajian mendalam yang mengedepankan akal.

Aqidah yang mapan tidak hanya mengandalkan potensi akal, akan tetapi butuh juga kepada potensi lainnya, yaitu: wahyu, indera dan hati.

Agar segenap potensi tersebut dapat bersinergi dengan baik, maka difungsikanlah ILMU AQIDAH sebagai jembatan penghubungnya.

Tuhanlah Yang Maha Sempurna, sedangkan manusia hanyalah makhluk yang diberikan potensi oleh-Nya untuk berbuat. Sabjek yang berperan dalam melakukan perbuatan baik dan buruk adalah makhluk (manusia), yaitu dengan segenap potensi (Wahyu, Akal, Indera, dan Hati) yang telah diberikan Tuhan.

Wassalamu'alaikum wr.wb.
Darussalam, 12 Mei 2014