Minggu, 27 Desember 2015

Ada Sensasi Di Balik Tilangan Polisi

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu..
Bagaimana keadaan sahabat.. Semoga cinta selalu menyertai hidup sahabat semua.

Sebagaimana biasanya sahabat...
Kali ini saya akan mencurahkan beberapa pengalaman perjalanan kepada sahabat semua.

Sahabat...
Tepat pada hari Minggu, 20 Desember 2015 Pukul 09:30 wib, saya melangsungkan perjalanan menuju kawasan Lampuuk. Kebetulan di kawasan pantai Lampuuk tersebut, segenap mahasiswa KPM Reguler II UIN Ar-Raniry 2015 yang mengabdi di Kecamatan Trienggadeng Kabupaten Pidie Jaya akan mengadakan acara silaturrahmi dan bubar panitia kegiatan lomba selama KPM. Beberapa jam sebelum berangkat, saya sempat berkomunikasi dengan salah seorang teman yang berinisial AH. Awalnya saya mengatakan kepada AH bahwa saya tidak dapat pergi ke-Lampuuk karena saya mau pergi ke kawasan pasir putih bersama teman-teman Asrama. Kemudian tidak lama berselang, saya kembali mengatakan kepada AH bahwa saya tidak jadi pergi ke kawasan pantai pasir putih dan hari ini saya tidak akan pergi kemana-mana. 

Sahabat...
Di akhir komunikasi dengan AH saya mengatakan "Em.. Sukses. Semoga sampai jumpa di jalan", dan AH menjawab "Iya, terimakasih Nazar" sambil tersenyum. Kata terakhir yang saya sampaikan kepada AH merupakan suatu isyarat bahwa saya akan pergi juga ke kawasan pantai Lampuuk.

Sahabat...
Saya membulatkan tekat untuk berangkat kewasan pantai Lampuuk dengan menggunakan sepeda motor Fakhrul Razi. Sahabat, perlu saya kenalkan dulu ni, Fakhrul Razi adalah teman saya di Asrama. Kebetulan pada hari yang bersangkutan Fakhrul melangsungkan perjalanan ke Kabupaten Pidie untuk meninjau lokasi KKN yang akan di laksanakan pada pertengahan Januari 2015. 

Sahabat...
Perjalanan yang saya tempuh menuju ke kawasan pantai Lampuuk hanya bermodal uang Rp. 80.000 untuk jajan dan isi bensin Sepeda Motor, Sepeda Motor tanpa spiyon, tanpa STNK, tanpa SIM dan tanpa menggunakan Helem. Akibat dari segenap kekurangan tersebut, maka pas sampai di kawasan kota,, langsung datang suara gertakan dari samping kanan saya, lebih kurang kalimat gertaknya gini: Mau kemana pak, kenapa ngak pakek helem? kepinggir dulu pak! bapak ada SIM ngak, perlihatkan SIM nya pak!, kemudian saya jawab, "saya ngak ada SIM pak". Mendengar pengakuan saya demikian maka langsung bapak itu mengatakan kepada saya, "kalo begitu bapak ikut saya ke kantor". Mati saya sahabat... tidak lah sampai saya ke pantai Lampuuk pada pagi Minggu yang cerah tersebut.

Sahabat... 
Tujuan mau pergi ke Pantai Lampuuk, sampai di kawasan kota saya malah di tilang sama Pak Polisi. Hemmmm..

Berikut ini lah cerita sekilas tentang prosesi penilangan saya di kawasan kota Banda Aceh
Sahabat, bagi saya penilangan kali ini adalah pengalaman pertama. Sebelumnya saya belum pernah di tilang, tapi kalo di tilang pergi sering.. hahaha. Sehingga saya merasa bahwa ini sesuatu hal baru yang sangat menarik. Banyak pengetahuan yang saya dapat selama proses penilangan berlangsung. Banyak juga uang yang habis si.. hehehe.
Oa, berkaitan dengan persoalan penilangan, para sahabat tentu lebih berpengalaman kan? hehehe
Penyelesaiannya ngak jauh-jauh beda kok. Awalnya Pak Polisi menjelaskan bahwa saya banyak kali yang ngak ada, sehingga sepeda motor saya harus ditahan dan pada tanggal 15 Januari 2016 saya harus menebusnya di persidangan dengan uang sebesar Rp. 150.000. Mendengar penjelasan dari Pak Polisi yang bijak, maka saya langsung puteng,,, eh,, bukan-bukan,, puyeng,,ehh bukan juga tapi pusing. a... itu baru betol.. hehehe.

Sahabat, tahu persiskan,, kalo anak kuliahan seperti saya ini bokeknya seperti apa... hahaha..
Akhirnya sahabat kan... saya minta cara lain,, saya bilang lah terus terang kepada Pak Polisi tentang bagaimana bokeknya saya. Saya cuma ada uang Rp. 80.000 saja..kalo saya kasih semua bagaimana saya pulang. Kalo saya tunggu sidang, maka hancurlah  sepeda motor teman saya.
Sangking oonnya saya, mulai di tilang pukul 10:20 wib, pada pukul 12:00 wib baru selesai. hahaha
Akhir yang keterakhirnya, saya dibolehkan bawa pulang sepeda motor dengan denda Rp. 50.000 saja.
Kwkwkwkwk


Sahabat...
Usailah acara tilang-tilangan. Sekarang ada lanjutannya ni.. yuk baca gi:

Keluar dari Kantor Polantas maka berangkatlah saya dengan sisa uang Rp.30.000. Perjalanan saya selanjutnya tidak lagi ke Pantai Lampuuk, tapi menuju Pantai Pulo Jawa. Sahabat pasti tahu persis dong, sebelum melihat tepi pantai Pulo Jawa terlebih dahulu kita akan dapat melihat apa? Yaps.. benar banget.. sebelum melihat Pantai Pulo Jawa, kita akan melihat terlebih dahulu lokasi pembuangan sampah dan pengolahan tinja.
Sahabat... ternyata saya lebih tertarik untuk mengamati kedua proses tersebut. Cukup menarik. Ada banyak hal baru yang saya peroleh di lokasi pembuangan sampah dan pengolahan tinja. Tapi sayangnya, saya tidak dapat mendokumentasikannya ke dalam bentuk foto, karena pada hari minggu tersebut HP saya masih rusak.

Sahabat...
Waktu terasa begitu cepat berlalu, waktu Dzuhur pun sudah tiba. Rasanya saya ingin mengamati dan bertahan lebih lama di tempat yang telah menyelamatkan penduduk kota Banda Aceh ini. Tepat pada pukul 12:45 wib saya melanjutkan perjalanan. Kali ini saya bertujuan untuk pulang ke Asrama. Namun dalam perjalanan pulang, terlebih dahulu saya mampir di mesjid Gampong Tibang untuk melaksanakan shalat Dzuhur. Setelah selesai shalat, muncul keinginan dalam diri saya untuk pergi ke-Pantai Pasir Putih. Sudah lama saya tidak berjalan-jalan melihat manusia-manusia modern di tempat tersebut.. hehehe.

Sahabat.. 
Dengan modal uang yang hanya Rp. 20.000, saya memberanikan diri untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Pasir Putih, meskipun tanpa makan siang. Gimana mau makan, uang nya cuma cukup buat isi bensin sepeda motor.. hemmm.

Sahabat...
Ternyata alam (laut dan perbukitannya), tetapi sangat sayang sekali, manusia-manusia yang duduk dan berjalan di sepanjang kawasan tersebut tidak seindah alamnya. Sahabat lebih berpengalaman, pastinya. Hehehe.

Sahabat...
Tepat pada pukul 14:30 wib, sampailah saya di salah satu bukit yang ada di kawasan Pantai Pasir Putih Aceh Besar. Di atas bukit tersebut saya melihat pemandangan laut dan perbukitan-perbukitan lainnya. Saya tepat berdiri di salah satu bukit yang ada tugu kecil yang bertuliskan: "batas pertahan nasional, jangan di rusak". Di tengah-tengahnya bertuliskan angka 01, mungkin angka kilometer kali ya.. hehehe. Kemudian saya juga membawa pulang sebuah batu kecil sebagai kenang-kenangan. Saya tidak tahu apa nama batu tersebut. Tapi sahabat dapat melihat sendiri, seperti inilah bentuk batunya:


    
Demikianlah cerita saya kali ini, semoga selalu berkenan di hati para sahabat.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu.

Kamis, 17 Desember 2015

Dosa

Dosa-dosaku terlalu banyak,
hingga ketenangan tidak pernah lagi aku rasakan,
Ya Tuhan.. Ampunilah segala dosaku.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Nazari Mahda
As.17-12-2015.04:35 Wib.

Minggu, 06 Desember 2015

Prosesi Sidang KPM Reguler II UIN Ar-Raniry 2015

Sahabat sekalian..
Setiap mahasiswa UIN Ar-Raniry yang telah melaksanakan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) selama 45 hari di tiga kecamatan yang ada di Kabupaten Pidie Jaya akan disidangkan (mengikuti proses persidangan). Tiga kecamatan yang menjadi lokasi KPM mahasiswa UIN Ar-Raniry kali ini adalah Kecamatan Bandar Baru, Trienggadeng dan Bandar Dua).

Setiap mahasiswa KPM yang akan mengikuti prosesi persidangan wajib memaparkan dan mempertanggungjawabkan berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan selama kuliah pengabdian kepada para penguji dalam bentuk laporan tertulis.

Sahabat..
Berikut ini merupakan video prosesi persidangan mahasiswa KPM Reguler II UIN Ar-Raniry yang berlangsung di Auditarium Ali Hasyimi pada hari Kamis, 03 Desember 2015. Pukul 08:30-12:30 Wib.
Selamat menyaksikan. Semoga selalu berkenan dihati para sahabat. Hehehe