Mahasiswa Program Studi Ilmu Aqidah
Fakultas Ushuluddin – UIN Ar-Raniry
Oleh Nazari Mahda/011
A. Pertayaan yang diajukan dalam wawancara
Bagaimana pendapat anda tentang perubahan prodi ilmu aqidah dan filsafat menjadi prodi ilmu aqidah?
Jika anda setuju dengan perubahan tersebut maka bagaimana menurut anda prospek lulusan prodi ilmu aqidah di dunia kerja?
B. Pernyataan Responden
Berikut ini merupakan pernyataan langsung dari para responden terkait dengan kedua pertanyaan diatas. Para responden merupakan mahasiswa Prodi Ilmu Aqidah yang terwakili dari berbagai leting, yaitu mulai dari leting 2010 sampai dengan 2013.
Pernyataan dari respon pertama yang berinisial DNS leting 2011 pada tanggal 31 Agustus 2011/20:30 Wib:
Saya terima saja perubahan nama prodi tersebut, karena berdasarkan informasi yang saya peroleh dari salah seorang dosen bahwa perubahan nama tersebut disesuaikan dengan kondisi publik. Sampai sekarang saya belum tahu bakal bagaimana prospek lulusan dari prodi ini.
Pernyataan dari respon kedua yang berinisial NI leting 2011 pada tanggal 01 September 2014/20.00 Wib:
Maunya nama prodi yang telah ada jangan dirubah-ubah. Jika dirubah nama tentu matakuliah yang diajarkanpun akan berubah juga, sehingga hal tersebut dapat memicu kegalauan (stress) dikalangan mahasiswa prodi. Menurut saya, antara prospek lulusan prodi nama baru dengan nama lama sama saja, yaitu sama-sama tidak jelas. Pendirian prodi hanya disesuaikan dengan problem terbaru yang terjadi dalam ruang lingkup sosial keagamaan. Sedangkan lembaga-lembaga untuk mengatasi problem tersebut sama sekali tidak dibentuk. Kalau pun ada itu pun tidak membuka formasi yang sesuai dengan nama prodi ilmu aqidah.
Pernyataan dari respon ketiga yang berinisial NH leting 2013 pada tanggal 01 September 2014/20:30 Wib:
Sebenarnya dalam lubuk hati yang paling dalam, saya tidak ingin nama prodi itu diganti-ganti. Walaupun mereka bilang apalah arti sebuah nama, namun bagi saya identitas nama itu sangat berpengaruh dalam berbagai sektor lainnya. Terbuktikan setelah perubahan nama mahasiswa baru tahun ini lebih sedikit. Sebenarnya saya sakit hati dan merasa ditipu karena hakikat yang pertama saya pilih itu adalah kategori filsafat. Walaupun katanya mata kuliahnya tidak ada yang berubah namun saya sebagai mahasiswa sangat merasa ditipu dan sangat kecewa, karena nama baru tersebut tidak bisa diubah lagi. Nama itu sudah mutlak keputusan dari Dinas Kementerian Agama Indonesia. Atas dasar ini, maka bagi saya tidak ada solusi lain selain pindah jurusan.
Pernyataan dari respon keempat yang berinisial IH leting 2010 pada 15 September 2014. 17:30 Wib:
Saya tidak setuju dengan perubahan tersebut, kerena hal itu hanya akan berpotensi penyempitan makna secara terminologi, dan sekaligus juga akan merubah paradigma ushuluddin yang global tanpa dikotomi.
Adapun solusi terbaiknya semuanya kembali kepada mahasiswa sebagai the man of agen to change the world.
Pernyataan dari respon kelima yang berinisial RTW leting 2011 pada 15 September 2014/19:40 Wib:
Saya setuju-setuju saja, karena jika kita pertahankan pun filsafat tersebut tidak sesuai juga dengan gelar.
Pernyataan dari respon keenam yang berinisial H leting 2010 pada tanggal 15 September 2014/20:00 Wib:
Saya tidak mau ambil pusing lagi mengenai itu perubahan itu. Dahulu pada tahun 2011/2012 dari prodi filsafat politik berubah ke aqidah dan filsafat juga sudah kami perjuangkan. Tetapi tetap begitu juga. Dahulu mau kami demo tapi pas hari H nya tidak ada yang berkumpul satu pun. Sekarang tidak penting bertanya tentang setuju atau tidak karena telah diatur oleh yang diatas. Apabila yang di atas bilang A maka tetap A. Sehingga Itulah Ushuluddin. Kalau kita yang pegang kendali ialah bisa kita atur, tapi sekarang ini coba lihat, mahasiswa ushuluddin pun kebanyakan pada apatis.
Pernyataan dari respon ketujuh yang berinisial RMS leting 2011 pada 15 September 2014/20:10 Wib:
Setuju atau tidak setuju tetap kejadian juga kan. Pastinya saya tidak setuju lah. Masak kita belajarnya filsafat, tapi jurusannya ilmu aqidah. Jadinyakan tidak nyambung. Kalau namanya ilmu aqidah kan maunya matakuliahnya cuma tentang ilmu aqidah saja, tidak usah lagi belajar tentang filsafat.
Pernyataan dari respon kedelapan yang berinisial MAF leting 2010 pada 15 September 2014/20:20 Wib:
Jika dilihat dari kesukaan, aqidah dan filsafat jelas lebih menarik. Alasannya orang paham berarti di sana berkumpul segala pemikiran-pemikiran ahli. Dan bisa jadi, mahasiswa pun akan tertarik untuk masuk kedalam prodi tersebut. Jika diganti ke ilmu aqidah, maka ingatlah bahwa sekarang ini kita hidup di zaman yang serba moderen. Sudah begitu banyak aliran-aliran yang tidak jelas. Bermacam-macam paham sekarang ini yang sudah tumbuh. Lantas anak-anak remaja sekarang lebih memilih islam turunan ketimbang harus muluk-muluk mempelajari hal yang lain. Seperti halnya ilmu aqidah, secara praktis orang akan bertanya, apa yg akan di pelajari di sana? rasa kekhawatiran tentu ada di benak mereka. Mereka takut jika apa yang dipelajari tidak sinkron dengan yang ada dalam hatinya. Mungkin itu secara praktisnya pendapat abang.
Kemudian, jika di tinjau dari perkembangn zaman. Sepertinya persoalan aqidah sudah tidak menarik lagi. Sebelum mereka masuk ke kampus saja mereka sudah tahu apa yang akan dipelajari. Tetapi jika aqidah dan filsafat tentu akan ada hal menarik yang akan timbul dalam benak mereka sebelum mereka terjun langsung ke bangku perkuliahan.
Pernyataan dari respon kesembilan yang berinisial MNY leting 2011 pada 16 September 2014/19:30 Wib:
Pada awalnya saya tidak setuju, karena selama ini makanan kita sehari adalah filsafat. Dan sekarang ini nama jurusan kita tidak ada lagi filsafatnya. Ngomong-ngomong, jika telah diganti menjadi ilmu aqidah, maka matakuliah filsafat bakal dimusnahkan kan? Oa, ingat tidak? Ibu dosen (SY) bilang apa waktu DNS menanyakan masalah ini? Saya tidak begitu ingat detailnya, tapi itu bisa menjadi jawabannya. Sekarang ini, yang jelas saya tidak berdiri sebagai orang yang bertahan untuk Aqidah dan Filsafat atau menolak Ilmu Aqidah.
Pernyataan dari respon kesepuluh yang berinisial B dan tidak bersedia disebut letingnya. Pada tanggal 16 September 2014/23:30 Wib:
Setuju tapi melalui kesapakatan kita juga. Sekaranginikan yang mengubah nama adalah doktor-doktor. Sehingga mungkinkah kita melangkahi hasil kesepakatan para doktor yang ada di Fakultas Ushuluddin. Mungkin saja nama prodi itu yang layak menurut mereka. Di Ushuluddin bukan Aqidah dan filsafat. Mungkin saja juga telah direncanakan untuk mendirikan Fakultas Filsafat. Kemudian sebaliknya, jika memang kita tidak setuju dengan perubahan nama maka mari kita adakan audensi/demo. Dan didalam demo tersebut kita pertanyakan tentang prodi kita itu agar kita puas mendengar apa alasan prodi itu diganti. Kalau bisa, kumpulkan seluruh mahasiswa prodi kita untuk berbincang sebelum kita melakukan audensi dengan pihak dekanan. Memang nama prodi sangat berpengaruh. Prodi kita itu susah masuknya di bidang pekerjaan.
Pernyataan dari respon kesebelas yang berinisial FI leting 2011 pada 17 September 2014/22:30 Wib:
Perubahan nama prodi tidak masalah, tetapi yang perlu adalah kualitas dari mahasiswa, bagaimana cara dosen itu mendidik mahasiswa yang benar-benar siap menghadapi kehidupan ini. Jadi kualitas dosen juga mempengaruhi mahasiswa.
Sebenaranya, jika kerja buka menjadi suatu masalah, tetapi yang harus didik adalah kesiapan mental dan bekal untuk kesiapan kerja, “nama tidak menjamin ilmu seseorang”.
Demikianlah pernyataan dari para responden yang dapat peneliti publikasikan. Dimana kesebelas responden tersebut merupakan sampel dari keseluruhan mahasiswa yang aktif.
Keterangan:
Hasil Penelitian ini telah diserahkan kepada pihak prodi pada tanggal 19 September 2014, untuk dipadukan dengan hasil yang diperoleh oleh peneliti yang lain, baik dari pihak mahasiswa maupun dosen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar