Ini lah ucapan yang sering kita
dengar dari mulut-mulut mereka yang kurang memahami pengajaran dan pembelajaran
yang terdapat di Jurusan Aqidah dan Filsafat. Memang setiap manusia mempunyai
pandangan serta kritikan terhadap apa yang mereka lihat dan dengar. Akan
tetapi, tidak lah berarti bahwa mereka dapat menggelar atau menghukum seseorang
yang mempelajari filsafat dengan sesuka hati. Apalagi dengan menghukum atau
menyatakan kafir kepada penuntutnya.
Dalam konteks keilmuan, jika kita
belum mengetahui dan memahami konsep keilmuan itu sendiri maka sikap
mengkafirkan dan mengatakan sesat sangat lah tidak pantas. Aqidah dan Filsafat
ini merupakan salah satu jurusan yang ada di Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry
Banda Aceh, sehingga ruang lingkup kajian jurusan ini tidak terlepas dari ranah
keushuluddinan itu sendiri.
Kemudian, perlu dipertegas juga
bahwa di Jurusan Aqidah dan Filsafat, pisau bedah yang digunakan untuk mengkaji
problem keislaman ialah dengan pemikiran dan tasawuf yang tetap berlandaskan
pada Alquran dan sunnah. Berdasarkan keterangan ini, maka sangat lah tidak
benar bagi siapa pun untuk mengatakan kafir terhadap para penuntut filsafat.
Contohnya dalam Filsafat Islam.
Di bagian ini, Islam dijadikan
sebagai salah satu subjek di dalam pembelajaran di Aqidah dan Filsafat. Dalam
Filsafat Islam kita akan belajar memahami konsep pemikiran para filosof Islam
tentang segala permasalahan yang berlaku, seperti kajian tentang Tuhan, alam
dan manusia. Sebut saja kajian tentang Tuhan misalnya. Kebanyakan orang yang
tidak paham mengatakan bahwa untuk apa mencari atau membahas Tuhan? karena
Allah itu adalah Tuhan, sehingga tidak perlu mengkaji atau mencari zat Allah.
Disini lah salah satu kesalahpahaman
orang terhadap Aqidah dan Filsafat. Sebenarnya, para Filosof Islam mengkaji
atau mencetuskan teori kajian terhadap kewujudan Tuhan bukan lah untuk
menunjukkan bahwa mereka telah lari dari landasan Islam. Akan tetapi, teori
mereka ini tujuannya adalah untuk melawan pemikiran filosof kafir yang
membayangkan Tuhan dengan berbagai unsur seperti air, api dan udara.
Ini lah tugas para filosof Islam
ketika itu, yaitu berfilsafat dalam usaha menjawab sanggahan-sanggahan orang
kafir terhadap Islam. Mereka para penentang Islam, menggunakan logika ataupun
akal semata untuk menentang Islam, agar umat islam menjadi keliru dan ragu,
sehingga orang Islam dapat mempercayai dakwah yang mereka bawa. Berdasarkan hal
inilah, para penuntut aqidah dan filsafat terlahir untuk mempelajari konsep
pemikiran keislaman berdasarkan pedoman, yaitu Al Quran dan hadis.
Contohnya begini, jika kita hanya
menggunakan dalil alquran dan hadits untuk melawan dakwah orang yang
menggunakan akal semata maka kita akan tersungkur olehnya karena kita tidak
memahami kaedah dan suasana yang mereka utarakan. Maka oleh sebab itu, tidak lah
wajar bagi siapa pun untuk menghukum para penuntut aqidah dan filsafat sebagai
orang yang sesat dan kafir, akan tetapi marilah kita bersama-sama untuk
memartabatkan Islam di dunia ini. Jika mereka meggunakan akal maka kita juga
harus menggunakan akal, tapi tidak bermakna kita menolak dalil. Dalil al- Quran
tetap kita jadikan sebagai sumber utama dalam setiap penuntutan materi yang ada
di Aqidah dan Filsafat.
Filsafat berasal dari perkataan
fhilo sofea yang berarti cinta kebijaksanaan. Oleh karena itu, kita sebagai
mahasiswa Islam, mari kita gunakan akal ini secara bijak dan cinta ilmu. Jangan
sesekali kita meremehkan ilmu Aqidah dan Filsafat maupun ilmu islam lainnya,
karena semua itu adalah ilmu yang berusaha membesarkan Allah dalam setiap
dimensi kehidupan yang sementara ini....wallahualam. .
Penulis :
Amir bin Ahmad Pohat [11 Desember 2013. 03:06]
Penyunting : Nazari
Mahda [11 Desember 2013. 23:37]
[Sekilas Opini Mahasiswa di Jurusan Aqidah dan Filsafat. Leting 2011]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar